Sore itu perutku terasa lapar. Sehabis sholat Ashar, kususuri sepanjang jalan depan musholla Syukron Maghfuuro untuk mencari warung yang menjual nasi. Kulihat di kiri jalan di depan Rolak Outbond ada satu warung yang menjual nasi, tapi kuteruskan langkah untuk mencari warung lain yang dulu pernah aku singgahi sewaktu aku masih tinggal di asrama Al-Mufidah. Namun sayang, warung itu sudah beralih fungsi menjadi salon. Aku pun menghentikan langkah, berfikir sejenak, hingga akhirnya kuputuskan untuk kembali ke warung depan Rolak Outbound.

Warung yang cukup sederhana, tembok depan terbuat dari triplek yang dicat warna agak kuning. di  sebelah kiri dari pintu ada sebuah meja panjang terbuat dari kayu dipasang memanjang ke arah pintu, disebelah kanannya meja panjang dipasang memanjang kekanan, dan diujung kanan juga dipasang meja panjang yang memanjang ke arah pintu bagian kanan. Sehingga ketiga meja tersebut membentuk huruf U.

Perlahan aku masuk warung itu, kulihat ada tiga laki-laki di sana, yang dua sudah makan, dan yang satu hanya berbincang dengan penjaga warung, mungkin dia suaminya penjaga warung itu.

Penjaga warung itu memang cantik, wajar kalau banyak pemuda yang suka beli makan di warungnya. Senyumannya memang menawan, wajahnya tampak putih bersih, tingginya juga sepadan dengan tubuhnya yang tak kurus juga tak gemuk itu. “Namun sayang, dia tidak berjilbab”. Kataku dalam hati.

Sejak saat itu, hampir setiap hari aku membeli nasi di warung itu. Bukan karena penjaganya cantik dan enak dipandang. Namun, karena itu adalah satu-satunya warung terdekat di daerah sini.

Kemarin, tanggal 06 Oktober 2013 seperti biasa aku adzan maghrib di Musholla Syukron Maghfuuro, setelah sholat qobliyah, sepert ibiasanya aku melantunkan pujian (budaya nahdliyin). Setelah beberapa saat pujian, jamaah yang hadir sudah siap untuk melaksanakan sholat jama’ah, lalu kukumandang iqomah sebagai tanda bahwa sholat magrib berjamaah akan segera dimulai. Usai melantunkan iqomah, kukembalikan mikrofon di tempatnya, ketika kumemutar badan untuk ikut barisan sholat tanpa sengaja kumemandang sepasang mata yang juga memandangku. Sepertinya aku mengenal pandangan itu, namun siapa? Ah sudah lah tidak usah difikir, sekarang waktunya sholat. “Allahu Akbar”. Kumulai sholatku.

Hari ini, tanggal 07 Okt. 13, aku tidak adzan untuk sholat maghrib, karena sudah ada pak Mul yang biasanya adzan di sini. Setelah sholat qobliyah, aku duduk di belakang pak Mul sambil mendengarkan lantunan pujiannya. Ketika kumengedarkan pandangan ke samping kanan, ke arah pintu, melihat jamaah yang berbondong-bondong datang, kutangkap pandangan yang tak asing bagiku. Saat itu aku teringat siapa dia, “Masya Allah! ternyata dia aktif ikut jama’ah meskipun tidak berjilbab.”kataku dalam hati. Ternyata dia adalah penjaga warung yang cantik itu.

 

 

 

Karah, 07 Oktober 2013

Post a Comment

Komentarlah yang baik.
Tujukkan Karakter Bangsa Indonesia.