"Bah, guntingnya mana?" tanya si K.


"Gak ngerti. Wis bengi ra usah dolanan gunting" jawabku. Namun, si K tampak tidak puas dengan jawabanku. Dia tetap mencarinya ke mana-mana.


Kudengar si K mencari-cari gunting di sekitar meja tamu, meja tempat ia nonton, bahkan sampai buka pintu depan yang sudah dikunci untuk mencarinya di rak mainan yang ada di teras. Padahal biasanya di ruang tamu saja minta ditemani kalau malam begini. Apalagi kalau sampai keluar rumah gak bakal berani.



Setelah mencari-cari di luar gak ketemu dia kemudian masuk kamar lagi "Bah, guntinge gak ada." katanya. Aku masih memberi jawaban yang sama seperti sebelumnya namun kali ini dengan suara yang agak meninggi. Si K gak bergeming. Dia tetap berusaha mencari gunting.


Aku melihat dia mulai menata meja portabel miliknya di kamar untuk dijadikan pijakan mencari gunting di atas etalase. Setelah beberapa saat mencari, dia memberitahuku hal yang sama seperti sebelumnya "Bah... Bah... di sini juga gak ada" katanya masih terus berusaha mencari.


Aku menjawab dengan suara  yang lebih tinggi dari sebelumnya "Keviiiiin! Gak usah munggah-munggah ngunu. Sesok wae nek dolanan gunting. Meh gawe gunting opo?" cerocosku.


"Obat ibuk. Ibuk belum minum obat" katanya.


Weladalah. Aku saja gak kepikiran Ayi yang sudah terlelap di sampingku sudah minum obat atau belum. Malah si K yang ribut menyiapkan obat untuknya termasuk segelas air putih.


Ayi memang mulai minum suplemen penambah darah sejak seminggu yang lalu. Aku tidak tahu sejak kapan si K memiliki inisiatif menyiapkan dan mengingatkan ibunya untuk minum suplemen itu. Ini adalah kali ketiga aku mendapati si K memiliki inisiatif seperti itu. Kata Ayi saat aku di Semarang memang si K rajin mengingatkan dia untuk minum suplemen sebelum bersiap untuk tidur.


Akhirnya aku meminta si K mendekat sambil membawa suplemen ibunya kemudian aku ambilkan satu. Setelah mengambil segelas air putih, dia kemudian membangunkan ibunya. Sedangkan aku kamitenggengen melihatnya bertingkah seperti itu. Merasa malu telah salah paham padanya.


Terimakasih, Gusti. Engkau telah mengirimkan guru ruhani kecil untukku. 🤗🥰

Post a Comment

Komentarlah yang baik.
Tujukkan Karakter Bangsa Indonesia.